Beskal Agung Yakinkan Restorative Justice Tidak jadi Kebun Cuan Beskal Nakal

Beskal Agung Yakinkan Restorative Justice Tidak jadi Kebun Cuan Beskal Nakal

Beskal Agung RI Sanitiar Burhanuddin pastikan ada mekanisme pemantauan dalam implementasi restorative justice, supaya tidak disalahpergunakan oleh pelaku beskal nakal jadi kebun cuan atau cari keuntungan.

“Memang benar sekali, di saat saya ingin tanda-tangan perja ini, saya masih sangsi karena keadaan beskal di saat itu. Tetapi dengan 1 kemauan saya ingin membenahi keadaan ini,” kata Burhanuddin dijumpai selesai acara “Sound of Justice”, di Gedung Smesco, Jakarta Selatan dikutip Di antara, Sabtu.

Menurut Burhanuddin, ada sela untuk penyimpangan, karena kasus yang semula perlu dituntaskan di persidangan selanjutnya diputus oleh beskal lewat keadilan restoratif.

“Ini jika untuk jaksa-jaksa nakal ini ialah keinginan untuk melakukan perbuatan nista,” katanya.

Untuk menahan hal tersebut, kata Burhanuddin, faksinya lakukan pemantauan baik pemantauan oleh intern kejaksaan atau mengikutsertakan peranan aktif warga terhitung media.

“Kami coba membuat team pemantauannya selainnya fungsional yang berada di kami yakni Beskal Agung Muda Sektor Pemantauan, kami ada juga Satuan tugas 53,” ucapnya.

Satuan tugas 53 ini, lanjut Burhanuddin, jadi ujung tombak Kejaksaan RI untuk memantau jaksa-jaksa di wilayah dan di semua Indonesia.

“Itu (Satuan tugas 53) kami wujud dalam rencana untuk memantau, janganlah sampai terjadi, janganlah sampai terjadi penyimpangan,” ucapnya juga.

Semenjak Ketentuan Beskal Agung (Perja) Nomor 15 Tahun 2020 diberi tanda tangan, Burhanuddin mengatakan telah ada lebih dari 2.000 kasus pidana yang dituntaskan melalui keadilan restoratif.

Burhanuddin mengutamakan, program restorative justice yang digaungkan faksinya untuk mengatur tertimpangan dalam penegakan hukum yang semestinya dapat dituntaskan di luar pengadilan, dapat dituntaskan dengan pendekatan keadilan restoratif.

“Arah kami tidak untuk kurangi isi instansi pemasyarakatan, tapi kami jawab ke warga jika hukum itu tidak tajam ke bawah pijakl ke atas,” katanya.

Pemantauan yang lain yang diharap tiba dari media yang menyampaikan mengenai penyimpangan yang sudah dilakukan oleh pelaku-oknum beskal di daerah.

Pemantauan intinya ialah media. Media benar-benar menolong kami untuk lakukan pemantauan. Malah kami benar-benar tertolong sekali karena kami tidak dapat memantau yang banyak sekali semua Indonesia. Karena ada media yang memberitahukan keadaan wilayah itu benar-benar menolong kami,” ungkapkan Burhanuddin.

Ada sela cuan untuk pelaku beskal manfaatkan program restorative justice ini dikatakan oleh Ketua Umum Yayasan Instansi Kontribusi Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur dalam dialog bertema “Restorative Justice, muka penegakan hukum yang humanis”

“Semoga restorative justice diaplikasikan dengan tepat, karena dicemaskan bila tidak berhati-hati akan memunculkan pertanyaan baru, disetop kasusnya, dimediasi, jika tidak dikendalikan secara baik, dicuankan sama mereka. Ini menjadi harus ada kontrol, peraturan yang bagus, semangat yang bagus harus dijaga,” kata Isnur.

About admin

Check Also

Perbandingan dengan Orba, Mahfud: Dahulu, Jika Calonnya Bukan Pak Harto, Diamankan!

Perbandingan dengan Orba, Mahfud: Dahulu, Jika Calonnya Bukan Pak Harto, Diamankan!

Perbandingan dengan Orba, Mahfud: Dahulu, Jika Calonnya Bukan Pak Harto, Diamankan! Menteri Koordinator Sektor Politik, …