Mekanisme Pertahanan Udara Nasonal dan IKN

Mekanisme Pertahanan Udara Nasonal dan IKN

PERTAHANAN udara sebuah negara sebagai sisi yang utuh dari sebuah pertahanan nasional keseluruhannya. Mekanisme pertahanan udara nasional sebagai sub mekanisme dari mekanisme pertahanan pasional.

Selama ini kita mengenali mekanisme pertahanan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata) yang kerap didengang-dengungkan sebagai sebuah mekanisme pertahanan yang sudah benar-benar baik diaplikasikan saat perjuangan kemerdekaan tahun 1940-an.

Dalam perubahannya, saat ABRI menjelma jadi TNI dan Polri, sayup-sayup kurang kedengar kembali terminologi Sishankamrata. Kabarnya sudah ada istilah baru jika keamanan nasional itu jadi domainnya Polri dan pertahanan nasional jadi domainnya TNI. Sebuah deskripsi yang berkesan benar-benar simplistik.

Kabarnya juga sudah ada pengertian baru yang menjelaskan, pekerjaan TNI ialah pertahanan yakni layani lawan yang tiba di luar dan Polri bekerja dalam sektor keamanan dalam negeri. Masih tidak cukup terang apa memang betul semacam itu yang tertera dalam UU TNI dan UU Polri, perlu riset selanjutnya.

Namun sempat kedengar jika Sishankamrata sudah beralih menjadi Sishanrata (mekanisme pertahanan rakyat semesta). Satu kali lagi walahualambisawab. Pada intinya keseluruh itu belum tersosialisasi secara baik dalam masyarakat umum.

Yang jelas, dalam Pasal 13 UU Nomor 2 Tahun 2002 disebut jika pekerjaan dasar Polri ialah memiara ketertiban dan keamanan warga, menegakkan hukum, memberi pelindungan dan servis ke warga. Dalam pada itu, sama sesuai UU Nomor 34 Tahun 2004 mengenai TNI, di Pasal 7 ayat 1 disebut jika pekerjaan dasar TNI ialah menegakkan kedaulatan negara, menjaga kesatuan daerah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Mekanisme pertahanan udara nasional belum dipandang penting Selama ini national air defence sistem atau mekanisme pertahanan udara nasional di Indonesia belum juga dipandang seperti suatu hal yang perlu. Belum dilihat sebagai suatu hal yang terkait kuat dengan keamanan nasional.

Sebuah pertimbangan yang rasional, karena pada realitanya memang kondisi dan situasi sejauh ini aman saja. Kerentanan daerah udara pada teror untuk keamanan nasional yang tiba lewat udara memang sedikit susah untuk dimengerti. Jumlahnya penerbangan liar yang masuk tanpa ijin sejauh ini belum dipandang sebagai suatu hal yang beresiko untuk keamanan dan pertahanan nasional.

Itu penyebabnya kita sampai ke keputusan untuk mewakilkan saja pengendalian daerah udara kedaulatan di teritori tepian krisis ke kewenangan penerbangan negara lain sepanjang 25 tahun dan akan diperpanjang. Demikian juga kehadiran Basis Besar Pusat Pertahanan Udara Nasional di Halim (Jakarta Timur) benar-benar tidak jadi pemikiran sedikit juga untuk melangsungkan aktivitas penerbangan sipil komersil bekerja di teritori yang serupa.

Ringkasannya ialah jika mekanisme pertahanan udara nasional belum juga atau tidak demikian dibutuhkan. Terkecuali terkait dengan kejadian Aru tanggal 15 Januari 1962 dan kejadian Bawean tanggal 3 Juli 2003, sedikit orang menyimpan perhatian mengenai keutamaan kemampuan udara.

Mengenai begitu keutamaan kuasai daerah udara nasional. Begitu keutamaan harkat dan martabat sebuah bangsa di daerah udara kedaulatannya. Keinginan kita, momen pindahnya ibukota negara (IKN) ke Kalimantan, perhatian pada keamanan dan pertahanan pada udara sebagai sisi dari kedaulatan negara akan mendapat perhatian yang lebih seimbang.

Telah semenjak tahun 1920, Giulio Douhet, seorang jenderal bernegara Italia menulis dalam bukunya Command of the Air diantaranya seperti berikut: War will begin in the air. He who is unprepared is lost. (Perang akan diawali pada udara. Orang yang belum siap akan kalah).

Seterusnya pada tahun 1947 Jenderal Henry H Arnold, Kepala Staff Angkatan Udara AS mengingati: The next war will not start with a naval action nor by aircraft flown by human being. It might be verywell start with missilles being dropped on the capital of a country, say….Washington DC. (Perang selanjutnya tidak diawali dengan tindakan di lautan atau oleh pesawat udara yang diterbangkan manusia. Perang kemungkinan diawali dengan jatuhnya rudal-rudal dalam suatu ibukota, misalkan Washington DC).

Tutup tulisan ini, perlu dibaca opini seorang negarawan Israel yang memperjelas: A high standar of living, rich culture, religius, political and economic independence are not possible without full of aerial kontrol. (Standard hidup yang tinggi, budaya yang kaya, kemandirian religius, politik, dan ekonomi jadi mustahil terjadi tanpa kendalian penuh atas angkasa.)

About admin

Check Also

Perbandingan dengan Orba, Mahfud: Dahulu, Jika Calonnya Bukan Pak Harto, Diamankan!

Perbandingan dengan Orba, Mahfud: Dahulu, Jika Calonnya Bukan Pak Harto, Diamankan!

Perbandingan dengan Orba, Mahfud: Dahulu, Jika Calonnya Bukan Pak Harto, Diamankan! Menteri Koordinator Sektor Politik, …